Wednesday, November 9, 2016

Ibadah Haji

Posted by Blogger Name. Category:


Haji adalah rukun Islam yang kelima bagi umat muslim sedunia yang dilakukan setahun sekali, tepatnya setiap pada bulan Dzulhijjah.Pada dasaarnya, melaksanakan ibadah haji adalah kewajiban seluruh umatIslam (bagi yang mampu). Begitu ada tanda-tanda panggilan untukmenunaikan ibadah haji bersegeralah, tinggalkan urusan dunia untuksementara. Hanya saja, karena biaya yang relatif banyak, maka Allahmeringankan : Ibadah haji di wajibkan hanya untuk “orang–orang yangmampu“ baik secara rohani dan jasmani serta sudah mampu secaraekonomi dan dalam Al- Qur’an di jelaskan bahwa:


Artinya : Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam ibrahim, barangsiapa memasukinya (baitullah itu) menjadi amanlah dia, mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah.Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (Q.S Ali Imron:97)

Ayat tersebut, menjelaskan, bahwa mengerjakan ibadah haji adalah wajib bagi yang mampu. Syekh Abu Nashr as-Sarraj-rahimahullah- mengatakan: Awal dari adab menunaikan ibadah haji adalah memiliki perhatian khusus untuk menunaikan haji sebagai rukun Islam, menuju kesana dengan cara apapun yang bisa ditempuh, berusaha mencari jalan yang biasa mengantar ke sana, mengorbankan jiwa dan apa yang paling baik baginya, tidak cenderung pada kelonggaran-kelonggran yang diberikan ilmu syariat dan mencari keringanan-keringanan untuk tidak berangkat menunaikanrukun Islam, haji dengan alasan masih menyiapkan bekal dan sarana transportasi, kecuali jika memang ada hal fardhuyang menyebabkannya tidak bisa melakukan ibadah haji. Alangkah bahagianya saudara-saudara kita yang dapat memenuhi panggilan-Nya. Dengan melaksanakan ibadah haji tersebut, umat Islam mengharap dapat mengambil nilai-nilai dan makna, untuk kehidupannya di masa yang akan datang.

Ibadah haji bukan hanya memakai pakainan ihram dan thawaf saja akan tetapi saat melaksanakan rukun Islam ini, wukuf di Arafah, sa’I, lempar jumroh dan berjalan dari bukit Sofa sampai ke Marwah kembali sebanyak 7 kali juga merupakan syarat syahnya ibadah ini, jadi ibadah ini bukan merupakan ibadah mental saja ibadah ini dituntut untuk memiliki keadaan tubuh yang prima dalam pelaksanaannya.

Mampu melaksanakan ibadah haji tersebut dapat dijelaskan menjadi dua macam. Pertama, mampu mengerjakan haji dengansendirinya, dengan beberapa syarat. Diantaranya adalah, mempunyai bekal yang cukup untuk pergi ke Mekah dan kembalinya, ada kendaraan yang  pantas dengan keadaannya, baik kepunyaan sendiri atau dengan jalan menyewa, aman perjalanannya, bagi yang perempuan hendaklah ia berjalan dengan mahramnya, suaminya, atau bersama-sama dengan perempuan yang dipercayai, dan orang buta wajib pergi haji, apabila ada orang yang memimpinnya. Kedua,mampu mengerjakan haji yang bukan dikerjakan oleh yang bersangkutan, tetapi dengan jalan menggantinya dengan orang lain. Umpamanya seorang telah meninggal dunia, sedangkan sewaktu hidupnya ia telah mencukupi syarat-syarat wajib haji, maka hajinya wajib dikerjakan oleh orang lain. Ongkosmengerjakannya diambilkan dari harta peninggalannya. Maka wajiblah atas ahli warisnya mencarikan orang yang akan mengerjakan hajinya itu serta membayar ongkos orang yang mengerjakannya. Ong
os-ongkos itu diambilkan dari harta peninggalannya sebelum dibagi, caranya sama dengan hal mengeluarkan utang-piutangnya kepada manusia.

Setiap tahun waktu pelaksanaan ibadah haji merupakan moment yang ditunggu-tunggu kaum muslimin sedunia, ketika hati dan mata mereka tertuju ke Baitullah di tanah suci. Dalam suasana yang diliputi oleh ikatan keimanan antara warga Negara Arab Saudi dan saudara-saudara mereka seiman seagama di seluruh pelosok negeri, maka di mulailah persiapan-persiapan dalam rangka menyambut kedatangan tamu-tamu Allah ke negeri ini. Seluruh kemampuan yang ada dikerahkan untuk merealisasikan tujuan luhur kedatangan para tamu Allah untuk menciptakan suasana kondusif yang dapat mengakomodir niat baik dan harapan mulia tamu Allah ini.

Bagi jamaah haji, khususnya dari negara Indonesia, ketika telah melaksanakan ibadah haji, yaitu ketika bselesai ber-tahallul (keadaan seseorang yang telah dihalalkan melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang pada waktu sebelumnya), maka ada sedikit perubahan dalam panggilan nama mereka, yaitu gelar haji pada laki-laki dan hajah pada perempuan. Demikian pula setelah kepulangan mereka ke Tanah Air, gelar tersebut masih terus melekat pada namanya. Sehingga rasanya kurang afdhaljika dipanggil tanpa menyebut gelar haji atau hajah.

Perlu diketahui, bahwa esensi dari ibadah haji bukanlah untuk mendapatkan titletersebut, namun lebih dari itu. Gelar haji hanya sebagai gelar untuk menghormati orang yang telah menunaikanibadah haji. Esensi dari ibadah haji adalah ketika seseorang merasa dipertemukan dengan sang khaliqdan dapat mengimplementasikan makna ibadah haji untuk kehidupannya di masa mendatang. Maka dari itu, ibadah haji erat kaitannya dengan makna spiritual. Salah satu contoh rangkaian ibadah haji yang mengandung makna spiritual adalah pakaian ihramsaat haji. Pakaian ini menujukkan, bahwa semua umat manusia di hadapan Tuhan Sang Pencipta alam semesta ini adalah sama, tidak ada perbedaan kedudukan di hadapan-Nya.Hal tersebut merupakan sebagian pengalaman spiritual yang kaya akan makna, jika setiap jamaah haji mampu untuk mengkaji lebih dalam.

Makna spiritual inilah yang saat ini diperlukan oleh para jamaah haji secara khusus, dan umat Islam secara umum, dalam memahami fungsi ibadah haji. Karena tanpa memahami makna tersebut, ibadah haji ini tidak akan memberikan efek pada pelakunya. Oleh karena itu, suatu teknik atau cara untuk memahami makna spiritual dalam ibadah haji inilah yang diperlukan oleh para jamaah.

Pengertian Ibadah Haji


Definini kata haji menurut Depag RI berasal dari akar kata Hajja - Yahijju - Hajjan yang artinya “menuju tempat tertentu” sedang secara bahasa, haji berarti mengunjungi Baitullah untuk melaksanakan amalan tertentu meliputu wukuf, sa’i, dan amalan lainya untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Haji merupakan bahasa arab “haja”,maknanya adalah “menyengaja sesuatu”. Haji yang dimaksud disini  (menurut syara’) ialah “sengaja mengunjungi ka’bah (rumah suci) untuk melakukan beberapa amal ibadah, dengan syarat-syarat tertentu”, yaitu wukuf, mabit, thawaf, sa’i, dan amalan lainnya pada masa tertentu, demimemenuhi panggilan Allah SWT. dan mengharapkan ridha-Nya. Sedangkan umrah adalah berkunjung ke Baitullah, dengan melakukan thawaf, sa’i, dan bercukur demi mengharap ridha Allah SWT.


Berhaji, sebagai ketaatan memenuhi panggilan Nabi Ibrahim A.S dan hikmah manfaatnya, dijelaskan oleh firman Allah SWT:


Artinya :´Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan´(Q.S Al-Hajj: 27-28)

Disisi lain haji juga bermakna menuju ke suatu tempat secara berulang-ulang atau menuju kepada sesuatu yang diagungkan. Tempat tertentu tersebut adalah Baitullah, sehingga yang dimaksudkan haji adalah mengunjungi Baitullahberulang kali pada setiap tahun, yang sering disebut dengan istilah Hajjul Baiti. Dalam pengertian syara', Hajjul Baitiadalah mengunjungi Baitullahdengan sifat tertentu, di waktu tertentu, disertai oleh perbuatan-perbuatan yang tertentu pula. Yang dimaksudkan dengan sifat tertentu adalah sifat berpergian haji yang berbeda dengan bepergian pada umumya. Haji adalah sebuah perjalanan ritual, yang diwajibkan kepada muslim yang telah memiliki kemampuan, di samping telah mukallaf dan merdeka. Para ulama' ahli fikih berpandangan bahwa ibadah haji hanya wajib sekali dalam seumur hidup, kecuali ibadah haji yang dinadzarkan. Selebihnya bersifat sunah.

Sedangkan yang dimaksud perbuatan-perbuatan tertentu adalah menyangkut syarat, rukun maupun sunnah-sunnahnya. Sedangkan yang dimaksud waktu tertentu adalah bulan syawal, Zulqaidah dan Zulhijjah. Yang dimaksud dengan perbuatan-perbuatan tertentu adalah menyangkut rukun dan wajib haji. Rukun haji adalah rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain, walaupun dengan Dam(denda), jika ditinggalkan maka hajinya tidak syah. Wajib haji ialah serangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji, bila tidak dikerjakan maka harus membayar Dam(denda).

Menurut Dr.H. Awaludin Pimay, Haji adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) untuk melakukan beberapa amalan-amalan antara lain: Ihrom, Wuquf ,Thawah, Sa’i, Tahallul, dan amalan-amalan lainya dengan syarat, cara tetapi demi mematuhi panggilan Allah dan mengharap riho dari Allah SWT.

Selain itu, ibadah haji adalah realisasi iman. Hubungan antara iman dan ibadah adalah bagaikan kayu dengan uratnya. Akar ada dalam tanah, tidak kelihatan. Iman itu ada dalam hati, batin. Apakah seseorang itu beriman atau tidak, kita tidak bisa mengetahuinya. Bukti adanya akar adalah dengan adanya pohon yang berdiri tegak, cabang dan ranting yang segar, dan daun yang hijau. Dari pernyataan tersebut, adanya imandapat terlihat dari pengamalan Islam secara penuh.


Hukum dan Macam-macam Pelaksanaan Ibadah Haji


Ibadah haji wajib segera dikerjakan. Artinya, apabila orang tersebut telah memenuhi syarat-syaratnya, dan diwajibkan atas orang yang mampu, satu kali seumur hidup.
Allah SWT berfirman:

Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah SWT, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah”. (QS. Ali Imran: 97)

Untuk melaksanakan amalan-amalan haji ini, kita bisa menempuh 3 cara yaitu:
1) Menunaikan ibadah Haji secara Ifrad, yaitu cara melakukan ibadah haji dengan cara mendahulukan ibadah haji dari umroh, cara ini mengerjakan umrah berihram dengan bermiqat sendiri pula. Orang yang menunaikan ibadah haji secara ifradtetap dalam keadaan ihram hingga selesai amalan hajinya. Sesudah itu barulah mengerjakan umroh jika dia dikehendaki

2) Menunaikan ibadah Haji secara Qiran, yaitu mengerjakan ibadah haji dan umrah secara bersamaan, atau memulai ihram dengan mengerjakan umrah terlebih dahulu, kemudian melakukan tawaf memasukkan haji kepada umrah itu. Dinamakan qiran dikarenakan dikumpulkannya haji dan umroh dengan cara satu ihram.

3) Menunaikan ibadah Haji Tamattu’, yaitu cara menjalan haji dan umroh dengan cara mendahulukan umroh kemudian setelah selesai mengerjakan haji. Dinamakan dengan tamattu'karena memanfaatkan bulan- bulan haji pada satu tahun itu untuk dua ibadah sekaligus tanpa harus kembali ke kampung (tanah air) terlebih dahulu. Dan selama itu (setelah selesai umroh), mereka dapat menikmati apa yang tidak dibolehkan selama ihram, sambil menunggu waktu memulai haji. Menurut pandangan ulama' fikh, orang yang menjalankan haji secara qiran dan tamattu' diwajibkan menyembelih Hadyu (binatang/kambing).

Rukun Haji

Adapun rukun haji adalah sebagai berikut:
1) Niat Ihrom di Miqat (berniat mulai mengerjakan haji). Miqat pada asalnya bermakna waktu, dipakai juga dengan makna tempat. Maka miqat-miqat haji ialah waktu melakukan ihram haji,dan tempat memulai ihram haji. Karenanya, miqat haji itu ada dua macam:
- Miqat Zamani ialah batas waktu musim haji. Menurut jumhur ulama mulai tanggal 1 syawal sampai terbit fajar tanggal 10 zulhijjah
- Miqat makani ialah batas tempat untuk mulai ihram haji/umrah

Hadir di Padang Arafah pada waktu yang ditentukan, yaitu mulai dari tergelincir matahari (waktu duhur) tanggal sembilan bulan Haji sampai terbit fajar tanggal sepuluh bulan haji.
Pakaian ihram adalah sebagai berikut: Bagi pria, memakai dua helai kain, yang satu diselendangkan di kedua bahu (bagian atas) dan satu dijadikan sarung (bagian bawah). Pada waktu melaksanakan thawaf, disunatkan kain ihramdikenakan secara idtiba’. Dan kain ihramdisunatkan berwarna putih.

Bagi wanita, memakai busana muslimah, yaitu pakaian yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan kedua tangan dari pergelangan sampai ujung jari (kaffain).Disunatkan berwarna putih.

Sedangkan larangan selama ihramadalah: Bagi pria, dilarang memakai bajudan celana/ sarung (pakaian biasa yang dijahit) serta sepatu yang tertutup tumitnya. Penutup kepala yang melekat seperti peci dan topi, kecuali jika ada luka yang mengharuskan diperban dan menutup sebagian kepala atau seluruhnya. Bagi wanita, dilarang menggunakan sarung tangan, menutup muka (memakai cadar atau masker), dan mengenakan pakaian yang transparan dan ketat, yang dapat mengundang maksiat. Bagi pria dan wanita, dilarang memakai wangi-wangian kecuali yang sudah dipakai di badan sebelum niat ihram. Mencukur atau mencabut rambut badan. Memburu bunatang buruan darat dengan cara apapun (kecuali binatang yang membahayakan), nikah, menikahkan atau meminang wanita untuk dinikahi dan dinikahkan dan menjadi saksi nikah, bercumbu atau bersetubuh, mencaci, bertengkar atau mengucapkan kata-kata kotor dan berbuat fasik.

2)  Wukuf di Arafah ialah keberadaan seseorang di Arafah walaupun sejenak, dengan niat wukuf, sesudah tergelincirnya matahari pada hari ke-9 dzulhijjah hingga fajar hari nahar. Dimaksudkan dengan melakukan wukuf di muzdalifah ialah berada di tempat itu walaupun yang melakukan wukuf itu tidak berhenti, hanya sekedar melalui saja, walaupun dalam keadaan tidur. Semua ulama menetapkan wukuf di arafah adalah rukun yang terutama dari rukun-rukun haji mengingat hadits yang di riwatkan Rasullah SAW Artinya:  ³Haji yang benar ialah haji yang dapat melakukan wukuf di Arafah´.

3)  Thawaf  (berkeliling ka’bah). Thawaf rukun ini dinamakan “Thawaf Ifadah”. Syaratnya adalah menutup aurat, suci dari hadas dan najis, ka’bah hendaklah di sebelah kiri orang tawaf, dimulai dari hajar aswad, dan dilaksanakan tujuh kali. Thawafada beberapa macam, yaitu thawaf qudum(thawafketika baru sampai), thawaf ifadah(thawaf rukun haji), tawaf wada’(tawaf ketika akanmeninggalkan Mekah), tawaf tahallul (penghalalan barang yang haram karena ihram), thawaf nazar(thawaf yang dinazarkan), dan thawaf sunat. Hendaklah thawaf itu dilakukan sempurna yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Maka jika dilakukan enam kali saja, tidaklah sah thawafnya, bahkan tidak sah thawaf bila selangkah saja tidak sempurna dikerjakan. Jika seseorang ragu, apakah sudah tujuh kali, ataukah masih enam kali, maka hendaklah di dasarkan pada enam kali, sehingga dia yakin, bahwa dia telah mengerjakan tujuh kali.

4) Sa’i (berjalan dari bukit Safa ke Maerwah, dan sebaliknya sebanyak tujuh kali).Hendaklah dimulai dari Bukit Safadan disudahi di Bukit Marwah, dilakukan sebanyak tujuh kali, hendaklah melakukan sa’i setelah thawaf rukunatau qudum.

5) Mencukur atau menggunting rambut, sekurang-kurangnya tiga helai rambut.Tahallul merupakan salah satu amalan haji dalam manasik haji dan umroh. Para ulama menyatakan bahwa amalan tersebut termasuk wajib haji, sehingga apabila ditinggalkan wajib membayar dam/ fidyah.

6) Menertibkan rukun-rukun itu (menjalankan rukun sesuai dengan urutan dan ketentuan/syaratnya).


Wajib Haji


Sedangkan wajib-wajib haji menurut para ulama' meliputi :

1) Ihram (niat memulai mengerjakan ibadah haji) darimiqat(Tempat yang ditentukan dan masa tertentu). Ketentuan masa (miqat zamani)ialah dari awal bulan syawal sampai terbit fajar Hari Raya Haji (tanggal sepuluh bulan haji). Jadi, ihramhaji wajib dilakukan dalam masa dua bulan sembilan setengah hari.

2) Mabid di Muzdhalifah. Muzdhalifah adalah antara Arafah dan Mina. Mabid di Muzdhalifah adalah berada di Muzdhalifah mulai dari tengah malam tanggal 10 Dzulhijah hingga terbit fajar. Yang dimaksud dengan mabit disini adalah bermalam (menginap), atau menginjakan kaki di areal Muzdhalifah, atau cukup di atas mobil,seseorang dapat saja memasuki Muzdhalifah mulai maghrib. Dalamkeadaan demikian ia melakukan sholat fardhu dalam keadaan Jama qasar, dan harus meninggalkan muzdhalifah sebelum terbit matahari pada tanggal 10 Dzulhijah.

3) Mabit di Mina. Wilayah mina terletak diantara muzdalifah dan makkah al-mukkarramah. Waktu mabit di mina yaitu antara malam tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijjah.

4) Melempar/melontar jumrah ula, wustha, aqobah.Melontar jumroh merupakan wajib haji. Jama’ah yang tidak melontar selama tiga hari wajib membayar dengan dam dan apabila meninggalkan sebagian lontaran, maka harus membayar fidyah.Pelaksanaan lontar jumroh ini dilaksanakan pada hari-hari tasriq yaitu pada tanggal 11, 12 dan 13 dzulhijjah.

5) Melempar jumrah Aqobah. Melempar jumroh aqobah ini hanya dlaksanakan pada tanggal 10 dzulhijjah dan mulai tengah malam dan sampai subuh saja.

6) Tawaf wada’ bagi yang akan meninggalkan makkah. Tawah wada’merupakan penghormatan akhir kepada Baitullah.



0 comments:

Post a Comment

◄ Posting Baru Posting Lama ►